Tombolotutu 1901, Dari Perang Katabang di Moutong Hingga Gelar Pahlawan Nasional

  • Whatsapp
Tombolotutu sebagai Pejuang Kemerdekan Republik Indonesia dari Provinsi Sulawesi Tengah. (Foto : Istimewah)

Oleh : Jeprin S. Paudi

Hari ini bertepatan dengan momentum Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2021, saya ingin memberi penghormatan yang setinggi tingginya kepada Mendiang Tombolotutu, salah satu pejuang kemerdekaan Republik Indonesia yang gugur di medan perang menumpas Penjajah Belanda.

Apresiasi yang tinggi juga saya sampaikan kepada Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi) yang hari ini menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Tombolotutu sebagai tokoh Pejuang kemerdekaan dari Provinsi Sulawesi Tengah, bersama tiga tokoh pejuang lainnya yaitu, Usmar Ismail dari DKI Jakarta, Sultan Aji Muhammad Idris, dari Kalimantan Tengah, dan Raden Aria Wangsakara, dari Kota Tangerang.

Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada empat tokoh pejuang itu ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 109/TK/2021. Dijadwalkan, anugerah gelar Pahlawan Nasional itu akan diserahkan Presiden Jokowi kepada perwakilan keluarga empat tokoh Pejuang tersebut di Istana Bogor Jawa Barat, tepat pada peringatan Hari Pahlawan 10 November hari ini.

Tombolotutu layak memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Fakta sejarah mengungkap banyak hal bagaimana perlawanan Tombolotutu terhadap Tentara Belanda. Pada satu kesempatan, saya bertemu dan mewawancarai Dr. Lukman Nadjamuddin, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univeritas Tadulako Periode 2016- 2020. Dr. Lukman banyak bercerita bagaimana perlawanan Tombolotutu terhadap Tentara Belanda.

Dimulai Tahun 1891 perang Katabang Raja Basar di Lobu Moutong, Perang Dodoe di Gio atas, Perang Bolano di Benteng Bajo dan Perang Dunduan di Tomini Popa.

Peristiwa heroik dan paling menarik, ketika Pemerintah Belanda menurunkan Pasukan Marsose untuk menumpas Perlawanan Tombolotutu. Marsose adalah pasukan elit Belanda yang pernah diturunkan saat perang Diponegoro dan perang Aceh.

Kala itu pasukan Marsose yang diturunkan untuk menumpas perlawanan Tombolotutu kurang lebih berjumlah 170 pasukan. Bisa dibayangkan bagaimana kekuatan Tombolotutu saat itu. Artinya kekuatannya sangat tangguh. Tidak pernah terjadi di Sulawesi Tengah ada gerakan yang ingin ditaklukan oleh Belanda dengan menurunkan tentara Belanda yang tergabung dalam pasukan Marsose sebanyak 170 orang. Meski dengan kekuatan sekelas Pasukan Marsose, Belanda tidak pernah berhasil menupas Tombolotutu.

Dr Lukman Nadjamuddin, yang juga salah satu iniasiator pengusul Tombolotutu sebagai Pahlawan Nasional mengatakan, harapan untuk menjadikan Tombolotutu sebagai Pahwalan Nasional telah disuarakan sejak Tahun 1990-an. Namun, upaya untuk mencapai hal itu terkendala dokumen resmi sebagai data primer. Puncaknya ketika Dr Lukman menjadi pembicara sejarah dalam Seminar Internasional di Universitas Kebangsaan Malaysia Tahun 2014.

Ketika itu peserta seminar mendorong Dr Lukman untuk meneliti perjuangan Tombolotutu. Sebab diperoleh informasi, Pemerintah Belanda banyak menyimpan dokumen resmi yang bercerita tentang Tombolotutu. Sehingga pada Tahun 2017, Universitas Tadulako berkerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah menggagas sebuah penelitian yang dituangkan dalam sebuah buku Bara Perlawanan di Teluk Tomini, Perjuangan Tombolotutu melawan Belanda. Sejak saat itu, diskusi untuk menjadikan Tombolotutu sebagai Pahlawan Nasional terus mengemuka.

Melihat jejak sejarah perjuangannya itulah, Tombolotutu layak dianugerahi Pahlawan Nasional. Ada sejumlah indikator mengapa Tombolotutu layak menjadi Pahlawan Nasional, diantaranya, ketersediaan sumber tertulis pada jamannya tersedia dalam jumlah yang cukup banyak, sehingga memberi informasi secara konferehensif tentang perlawanan yang dilakukan oleh Tombolotutu menantang Pemerintah Belanda.

“Tentu saja itu dilengkapi dengan sumber sumber tulisan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dengan demikian kita bisa mensinergikan menyatukan antar sumber Belanda, baik tulisan maupun sumber lisan yang dimiliki masyarakat,”tutur Dr Lukman kala itu.

Dari sisi waktu, perjuangan Tombolotutu cukup lama. Berdasarkan catatan yang ada, awal mula semangat perlawanan Tombolotutu itu mulai tumbuh pada tahun 1891. Perlawanan itu terus mengalami perubahan yang lebih besar dan kian menyulitkan Pemerintah Belanda. Belanda merasa sangat terganggu, hingga berakhir pada tahun 1904.

Yang menarik sebenarnya, meskipun Tombolotutu gugur seperti yang dijelaskan dalam berbagai sumber sumber tertulis pada tanggal 17 Agustus 1901 tetapi para kader dan pengikut pengikutnya tetap melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Secara geografis dan strategi perlawanan, Tombolotutu melakukan perlawanan terhadap Belanda dalam jangkauan yang luas sampai mengarungi lautan Teluk Tomini hingga sampai ke Togean Ampana. Disana Tombolotutu melakukan gerakan gerakan anti Belanda. Selama perjalanan itu tidak luput dari intaian dan pengejaran Belanda dan tidak bisa ditangkap.

Lalu sampai ke Pantai Barat, melintasi selat Makassar melintasi gunung sampai ke Donggala. Dari sisi strategi, Tombolotutu mengembangkan perang gerilya. Keluar masuk hutan bahkan melewati lautan masuk di sela sela teluk yang merasa aman dan sukar ditembus oleh Pemerintah Belanda.

“Jadi, apa yang dipraktikkan oleh Jenderal Soedirman dalam melakukan perang gerilya dilakukan oleh Tombolotutu. Saya kira sejumlah indikator itu yang menjadi dasar, Tombolotutu layak menjadi Pahlawan Nasional,”terang Dr. Lukman

Kini, perjuangan Tombolotutu menumpas Penjajah Belanda itu, telah diganjar gelar Pahlawan Nasional oleh Negara. Meskipun menurut saya gelar itu tak cukup untuk menebus semua pengorbanannya, mulai dari tenaga, pikiran, bahkan nyawanya sekalipun direlakan hingga gugur demi meraih sebuah kemerdekaan.

Tugas kita kedepan bagaimana melanjutkan kegigihan dan semangat perjuangan Tombolotutu merebut kemerdekaan.Tentu bukan lagi mengangkat senjata dan turun ke medan perang, melainkan berkontribusi positif terhadap apa saja yang bermanfaat bagi bangsa, daerah, lingkungan kerja, keluarga hingga lingkup terkecil sekalipun yang bisa membawa manfaat kebaikan.

Kita juga tentu berharap anugerah gelar Pahlawan Nasional yang diberikan Negara kepada Tombolotutu akan menjadi pemantik semangat bagi Putra Putri Daerah di Sulawesi Tengah, untuk terus berjuang mendorong lebih banyak lagi Tokoh Pejuang kemerdekaan dari Sulawesi Tengah memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Semoga ! Al-Fatihah Tombolotutu. **

Penulis : ASN Pemerintah Kota Surakarta, Berasal dari Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Berdomisili di Kota Surakarta (Solo) Provinsi Jawa Tengah.***