Bencana Tengah Didorong Jadi Literasi Ketujuh

  • Whatsapp
Pegiat Literasi Bencana, Neni Muhidin, saat Diskusi Literasi Bencana dalam rangkaian kegiatan Pencanangan Kampung Literasi Pelawa.(Foto : Opi)

PARIMO – radarparimo.com Bencana adalah rangkaian peristiwa membuat banyak orang meninggal dan aktivitas sosial lumpuh. Sehingga, literasi bencana tengah didorong menjadi literasi ketujuh, menambahkan enam literasi dasar saat ini, yakni literasi baca-tulis, numerasi, sains, digital, finansial, serta budaya dan kewargaan.

“Ketika menghadapi bencana, panik itu manusiawi. Tetapi, dengan memiliki pengetahuan literasi bencana kita tidak akan berlama-lama dalam kepanikan,” terang Pegiat Literasi Bencana, Neni Muhidin, saat Diskusi Literasi Bencana dalam rangkaian kegiatan Pencanangan Kampung Literasi Pelawa, bertempat di kantor Camat Parigi Tengah, Sulawesi Tengah (Sulteng), Jumat 29 Oktober 2021.

Bacaan Lainnya

Neni mengatakan, Parigi Moutong (Parimo), Sulteng merupakan kabupaten dengan jumlah penduduk terbanyak, dan memiliki garis pantai terpanjang, serta dekat dengan pantai. Sehingga ada kemungkinan memiliki risiko tinggi terhadap bencana.

Menurut dia, literasi bukan sekadar tahu huruf dan bisa menulis. Literasi itu juga mencakup kemampuan membaca lingkungan sekitar.

“Baca itu maknanya luas. Termasuk membaca lingkungan di sekitar kita terhadap risiko bencana,” kata mantan pendiri Perpustakaan Nemu Buku yang fokus pada literasi bencana sejak tahun 2008.

Dia menyebut, sifat bencana seringkali berulang, sehingga dikenal adanya siklus bencana seperti yang disusun dalam undang-undang bencana.

“Siklusnya itu, sebelum, saat terjadi bencana dan sesudah terjadi bencana,” jelasnya.

Karena itu kata Neni, pemerintah mulai dari tingkat desa perlu menyiapkan rencana kontigensi bencana.

“Perencanaan kontigensi ini skenario menghadapi bencana dan itu harus menjadi kesepakatan bersama warga. Misalnya di mana menentukan titik kumpul jika bencana terjadi,” tutupnya.

Diketahui, masyarakat Sulteng hidup di atas sejumlah sesar aktif, salah satunya sesar Palu Koro. Kondisi inilah yang mengharuskan setiap orang perlu memahami risiko bencana dengan memiliki pengetahuan literasi bencana.

Mengingat pentingnyah hal ini, Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sou Mpelava memasukkan Diskusi Literasi Bencana dalam rangkaian kegiatan Pencanangan Kampung Literasi Pelawa, bertempat di kantor Camat Parigi Tengah, Jumat.

Diskusi Literasi Bencana ini diikuti siswa MTs Alkhairaat Pelawa, MA Alkhairaat Pelawa, SMP Satu Atap Parigi Tengah, SMP Negeri 1 Parigi Tengah, SMP Muhamadiyah, SMA Negeri 1 Parigi Tengah dan SMA Negeri 1 Parigi Utara. (Opi)

Pos terkait